Judul Novel : Tak Putus Dirundung Malang

Penulis : Sultan Takdir Alisjahbana

Penerbit : Dian Rakyat – Jakarta

Cetakan : Ke lima belas 2004

Tebal : (IV + 129) hlm

Resentator : Aam Aminatul Hasanah

Hidup butuh perjuangan, apalah arti hidup jika dilalui tanpa perjuangan? Pasti akan terasa hambar, bagaikan sayur tanpa garam, semua terlihat suram tanpa adanya cahaya dan membosankan karena hidup yang kita hadapi tak kunjung berubah. Setiap orang harus berjuang untuk mendapatkan hidup yang lebih baik, harus berjuang melawan kemelut hidup untuk menyambut cerahnya hari esok yang telah menanti. Tampaknya inilah plot yang dipilih Sutan Takdir Alisjahbana dalam novelnya yang berjudul “Tak Putus Dirundung Malang”.

Novel ini bercerita tentang nasib seseorang yang tak pernah berhenti dirundung azab-sengsara.

Berawal dari terbakarnya rumah Syahbudin. Kebakaran yang menjadikannya miskin. Syahbudin tinggal bersama 2 anaknya Mansyur dan Laminah.

Syahbudin meninggal karena sakit, Mansyur dan Laminah diasuh oleh pamannya yang tidak memiliki hati nurani berbagai caci maki dan pukulan diterima Mansyur dan Laminah tiap hari. Akhirnya mereka pergi mengadu nasib di negeri seberang, Bengkulu, dengan harapan dapat menemukan nasib yang lebih ramah pada mereka.

Disana mereka tinggal disebuah toko roti tempat mereka bekerja. Tak lama kemudian mereka keluar karena tak terasa lagi kenyamanan oleh Laminah tinggal di toko tersebut. Sekeluarnya Mansyur dan Laminah dari toko roti, Mansyur mendapat pekerjaan ditoko orang Cina. Namun sayang nasib sial tak pernah jauh dari mereka, Mansyur dipenjara karena dituduh mencuri uang orang. Sungguh kalut hati Laminah pada nasib yang menimpa kakaknya. Laminah bertambah kalut dan hancur setelah pertemuannya dengan Darwis, hingga dia tak mampu lagi berdiri menghadapi segala petaka yang selalu menghampirinya dan dia menyerah pada permainan nasibnya.

Pengarang tidak memberikan penjelasan secara rinci tentang akhir hidup para tokoh. Seperti kematian Syahbudin disini tidak dijelaskan bagaimana dia mendapat penyakit yang menyebabkan dia meninggal. Dan alasan Laminah menjatuhkan dirinya kelaut juga tidak begitu jelas.”Berhari-hari ia memikirkan, apakah sebabnya maka Laminah sampai jatuh kelaut…. tetapi sia-sia belaka. Hanya Malik yang tahu akan hal itu, tetapi ia tak pernah membuka mulutnya, sebab takut ia akan terbawa-bawa. Dengan demikian rahasia kegaiban yang sedih itu selama-lamanya tersembunyi, tak diketahui manusia.” (hlm 121). Sedangkan pada Mansyur sendiri tidak diketahui secara pasti penyebab dia jatuh kelaut. “Tetapi bagaimanapun juga mereka mencoba menerka-nerka, masalah itu tinggal gelap juga, gelap untuk selama-lamanya. Tidak ada yang tau asal mulanya dia jatuh kelaut.” (hlm 126)

Banyak moral baik yang terkandung dalam novel ini, seperti untuk mendapatkan sesuatu kita inginkan kita harus tegar dalam menghadapi segala cobaan. Tidak boleh pasrah begitu saja pada nasib yang telah digariskan untuk kita. Novel ini dapat dibaca oleh semua kalangan tentu saja dengan harapan dapat memberikan motivasi pada sipembaca supaya terus berusaha untuk mendapatkan kesentosaan dalam hidup.

Buku ini bagus sekali untuk dibaca oleh semua kalangan karena mengandung banyak amanah yang terkandung dalam hidup yang dapat menjadi pelajaran.

About these ads