Kerepotan membawa dua putri kesayangannya tak menyurutkan semangat Eriza untuk menikmati jajanan khas kesukaannya. “Saya dari Sidoarjo, datang ke sini berburu soto medan,” ujarnya.

Diantar sang suami, Eriza, bersama keluarganya menempuh jarak sekitar 30 km menuju pusat kota Surabaya, lokasi Festival Jajanan Bango (FJB) 2008 digelar. Mereka memuaskan kegemarannya terhadap hidangan khas daerah asal Eriza.

“Mumpung di sini lengkap jajanannya, sekalian jalan-jalan,” kata Eriza.

Hal sama dilakukan Ibu Darmaji, bersama putri dan menantunya, mereka menempuh perjalanan dari Gresik ke lapangan yang berlokasi di Jalan Hayam Wuruk Surabaya. “Diajak anak saya jalan-jalan ke sini, kebetulan kami suka mencicipi makanan dari berbagai daerah,” ujar ibu yang mengaku telah memasuki usia pensiun itu.

Pernyataan Eriza dan Ibu Darmaji sejalan dengan warga kota lainnya. Tak heran bila sejak acara dibuka pukul 10.00 waktu setempat, mereka berduyun-duyun mendatangi tenda-tenda yang menyajikan ragam kuliner nusantara. Untunglah terik matahari yang panas saat pembukaan segera berganti teduh dengan angin sepoi-sepoi.

Makin sore, pengunjung yang makin banyak tampak bersantap dan bercanda ria di meja makan yang disediakan di tengah lapangan. Penyelenggaraan kali ini merupakan kali keempat sejak penyelenggaraan pertama pada 2005. Kota Surabaya menjadi pembuka sebelum acara yang sama digelar di Bandung dan Jakarta.

Deretan warung berupa tenda putih, menyajikan hidangan sesuai dengan tema pilihan FJB kali ini, yakni 80 makanan tradisional khas dari kota setempat. “Serba 80 menjadi tema FJB kali ini berkaitan dengan ulang tahun Kecap Bango yang ke-80,” sebut Manajer Merek Bango Memoria Dwi Prasita, yang akrab disapa Memor.

Hidangan pun bertambah lengkap dengan kehadiran 8 Duta Bango dari luar kota. Para Duta Bango yang ikut serta antara lain Ketoprak Ciragil mewakili Jakarta, Nasi Bug Trunojoyo mewakili Malang, sajian Gudeg dari RM Adem Ayem mewakili Yogyakarta, Tengkleng Bu Edi mewakili Surakarta (Solo), Kupat Tahu Gempol mewakili Bandung, Soto Udang racikan RM Rinaldy mewakili Medan, Tutug Oncom olahan Saung Kiray mewakili Bogor, Coto Daeng Muchtar khas Makassar, dan Rawon Dengkul Nguling terpilih sebagai Duta Bango yang mewakili Surabaya.

Kota Surabaya sebagai pilihan pertama penyelenggaraan FJB 2008 adalah tepat. Selain sedang merayakan HUT ke-715 Kota Surabaya, 31 Mei 2008, kota yang dikenal dengan rujak cingur dan petisnya itu juga sedang gencar mengangkat wisata kuliner sebagai tujuan wisata untuk menyedot devisa.

“Kami berharap event ini akan menjadi agenda tetap yang dapat dijual kepada wisatawan mancanegara,” kata Direktur Eksekutif Badan Promosi Pariwisata Surabaya Yusak Anshori.

Berkunjung ke Surabaya memang tidak mantap jika belum mencicipi hidangan mereka. Kota pahlawan ini menyimpan ragam kuliner yang selalu menjadi bahan buruan ketika berkunjung.

Menu-menu seperti rujak cingur, lontong balap, pecel semanggi, sop kikil, dan kupang lontong menjadi andalan. Tak lupa bandeng asap dan kerupuk sidoarjo, selalu menjadi tentengan pas untuk buah tangan. Semua menu unggulan itu, Sabtu 10 Mei lalu, terkumpul di Stadion Brawijaya.

“Tak perlu repot ke tempat masing-masing, cukup datang ke satu tempat, Anda dapat mencicipi semua hidangan kegemaran Anda,” ujar Yusak.

Kegiatan tersebut sejalan dengan semboyan para pencinta kuliner yang tergabung dalam Komunitas Bango Mania, ya jajan, ya makan, ya jalan- jalan. (sindo//jri)

sumber :